Monday, April 11, 2011

Tulisan lama, ketika saya mampu memakan meja.

Bagaimana bisa mengatakan hadir, padahal sesungguhnya tidak hadir.
Lalu, bagaimana bisa membicarakan kehadiran, namun yang dibicarakan hanyalah ketidak hadiran.
Bagi seorang budak,
adakah tuannya dekat maupun jauh, adalah sama saja.
Bagi seorang budak,
ketidak pedulian adalah karibnya dalam keseharian, ia akan tetap berusaha melayani tuannya, adakah tuannya peduli atau tidak, ia pun tidak mempedulikan akan hal itu, karena ia hanyalah budak, penantian adalah satu-satunya adab yang dapat ia persembahkan bagi tuannya.


Apa yang diharapkan dari keadaan ini?
tidak ada.
karena ini berganti-gantian, seperti malam dan siang, tidak ada yang berketetapan, termasuk kejauhan maupun kedekatan.


Apa yg paling engkau butuhkan ?
semua cerita akan tetap sama, menua untuk kemudian mati.


Jangan nyatakan apa-apa! engkau adalah sesuatu dan siapa-siapa, itu adalah apa-apa, sesuatu yang dinyatakan dalam pernyataan, kenyataannya engkau juga hanyalah hamba(budak).
Dan jadilah seperti ini apa adanya, ketetapannya hanyalah kita akan mendapatkan seluruh alam raya menjadi bisu dalam kesaksian atas penyaksian.


Tanyakan dan renungkan saja, adakah malu dalam setiap pernyataan itu?
Ya Rabb..., ampuni kami atas setiap prasangka kami kepada Mu.



No comments:

Post a Comment